Klien kode 102210030 (8 tahun), kelas 2 SD sekilas tampak biasa saja. Ceria layaknya anak-anak seusia itu, suka main game (laptop, PS, HP). Saya “menemukan” anak ini secara tidak sengaja. Berawal ketika seorang ibu menelepon saya, minta penjelasan tentang “aktivasi otak tengah” yang lagi marak. Dari pembicaraan telepon yang saya terima sambil nyetir ketika dalam perjalanan ke Surabaya itu (maaf ya pak polisi…. terpaksa deh…🙂 ) sekilas saya menangkap kegelisahan sang ibu terhadap anaknya. Saya katakan lebih baik bertemu langsung saja, bagus jika dengan si anak dan papanya sekalian.

Akhir cerita 3 hari kemudian si ibu datang berempat ke rumah saya dengan maksud “mengaktifkan otak tengah”-nya dengan harapan menjadi lebih “bisa diatur”, emosi lebih stabil dan mudah serta cepat dalam belajar. Saya berikan penjelasan seputar “aktivasi otak tengah” seperti yang dimaksud sang ibu dengan mengawali bahwa aktivasi diamaksud tidak serta merta membuat anak menjadi pinter dan jenius dalam tempo yang sesingkat-singkatnya… Saya katakan, menjadi jenius (atau: cerdas-lah) memerlukan proses. Aktivasi merupakan upaya mempertinggi kepekaan intuisi (kompetensi bawah sadar) seseorang sehingga ia bisa “awas mata batinnya” (konon tokoh Indonesia yang punya kemampuan “waskita” semacam ini secara alamiah adalah Gus Dur, alias KH. Abdurahman Wahid, Presiden RI ke-4 –jika Pak Harto dihitung no 2 dan Pak Habibi no 3, sebab setahu saya presiden RI ke 2, 3, 4, 5, 6 adalah Pak Harto jika dihitung masa periodisasi Pemilu..🙂 ).

Nah, untuk memenuhi harapan sang ibu dan sang papa terhadap si anak tadi yakni tentang motivasi dan cara belajar yang lebih baik, saya sarankan mengikuti prosedur terapi saya (sebagian prosedur Miracle Learning). Namun si ibu lebuh tertarik dengan “aktivasi otak tengah” itu.

Ok… saya mulai dengan prosedur aktivasi. Ketika mental detection saya lakukan, ternyata si anak mempunyai kecenderungan hiper aktif, fokus pada dunianya sendiri, cerdas, kreatif, daya imajinasinya bagus namun “sulit fokus pada urusan di luar kehendaknya” yang dalam bahasa umum, “sulit diatur”. Pada “perkenalan” pertama saya dengan bawah sadar si anak ini tampak bahwa dia lebih menyukai game daripada yang lain. Bahkan ketika tersadar kembali, dia dengan lancar dan detail menceritakan ihwal game dengan sangat baik, antusias dan detil. Menakjubkan! Saya berpikir, alangkah baiknya jika “energi” ini dialihkan kepada hal-hal yang lebih positif semisal belajar.

Setelah beberapa kali penyesuaian bawah sadar, maka aktivasi saya selesaikan dulu dan saya lanjutkan kembali ke sesi terapi berikutnya. Usai aktivasi si bocah saya tes kemampuan extra censoric perspectives-nya dengan mengenali warna, bentuk, huruf dan angka, dia lolos tes tersebut. Tinggal terapi yang lain.

Selama 1 minggu si anak ini berada di bawah pengawasan saya untuk “mengalihkan” emosi fokus pada dunianya sendiri dan hiper aktifnya itu kepada “fokus pada program saya” (sejalan kan dengan program dia sendiri dan ortunya: belajar).

Alhamdulillaah... dalam seminggu anak ini menunjukkan perubahan luar biasa. Saya pun senang dengan “sukses” pada level individual ini. Saya berpikir, 1 anak terselesaikan (anak-anak lain gimana ya… mudah-mudahan mereka baik-baik saja bersama orang-orang tercintanya….).

Sukses kecil melakukan “hal kecil” tersebut sungguh membahagiakan, lebih membahagiakan  daripada melakukan “hal besar” yang tidak sukses… (mungkin proses ya..). Advokasi “kebijakan mikro” pada level individual tentang pendidikan & pengembangan diri TIDAK KURANG BERMAKNA ketimbang advokasi kebijakan pendidikan pada level institusional & sistem jika para penduduk sistem kemudian mengabaikannya (saya sedang memformulakan “pemrograman” MIND – BODY – SOUL bagi para pengambil kebijakan, “Miracle Decision Making” dan “Strategic Thinking”… mengambil pengalaman melakukan advokasi kebijakan sejak tahun 2000… hehe….🙂 ).
Si anak tadi setelah seminggu akhirnya sukses melakukan PERUBAHAN BESAR pada dirinya. Ia tidak lagi gandrung main PS (Play Station) seperti sebelumnya yang hari-harinya hanya berisi PS saja. Kini ia main PS / game komputer max 1 jam saja per hari… (saya tinggal memonitor saja dan terus menyiapkan fasilitasi agar jam tayang PS/ game tsb terus berkurang).

Dan ia TELAH MEMUTUSKAN utk MEMBATALKAN rencananya beli PS 3 walaupun digoda ibunya bahwa PS 3 lebih bagus. Dia mulai mau menabung dari uang saku yang ia sisihkan setiap hari!

Seperti disinggung di depan, sebenarnya program intensif “Personal Changing” ini saya gunakan sebagai prasyarat untuk aktivasi “Subconscious Mind Competence”, SMC (Kompetensi Bawah Sadar) atau orang menyebutnya “otak tengah”, untuk menolongnya dalam memperbaiki belajarnya. Maklum, ia tergolong anak yang sangat aktif dan kreatif serta cerdas, namun kelebihannya tsb ia GUNAKAN dan FOKUSKAN kepada hal-hal yang menurutnya menarik (main PS, game saja). Dan ia sulit fokus pada apa-apa yang menurut umumnya orangtua adalah “hal yang bagus bagi masa depannya” (baca: belajar). Sampai-sampai ia mengatakan dalam pikiran bawah sadarnya bahwa main PS/ game komputer adalah (sama dengan) belajar!

Luar biasa! Potensi luar biasa ini yg mengeram di “area main PS” tinggal DIGESER ke “area belajar” dalam arti “belajar yg sesungguhnya”.

Alhamdulilaah…. Tuhan memberi keajaiban…

Setelah anak ini menjalani program “Personal Changing” selama 1 minggu, tampaklah perubahan luar biasa pada dirinya!

– Fokusnya pada hal-hal seputar dirinya (“dunianya sendiri”) kini TELAH bergeser ke program yg saya tawarkan. Dia bisa fokus sehingga aktivasi SMC bisa lancar.
Pengendalian emosi beserta persepsi-diri-nya lebih baik dan stabil sehingga ke-hiper-aktifan-nya jauh berkurang.
– Intuisinya TELAH berkembang dan FOKUS.

Dan ia telah lulus tes deteksi warna, bentuk, huruf dan angka (seminggu kenudian telah mampu membaca) dengan mata tertutup.

Dan ia sendiri yang membuat istilah bahwa dirinya sedang mengikuti program ini dengan sebutan level “easy”, “medium”, “hard” dan “very hard”. Sekarang, menurutnya, sedang berada pada level “medium”… Ya… bolehlah…

Ketika kutanya, “bagaimana kamu bisa mengatakan level itu?”.
“Dari PS om !”…
Nah lu… ilmu PS kebawa kemari…. bolehlah…
Kulanjut dengan mental suggestion: “…Sekarang gunakan ilmumu ini ke area belajar ya….”.

Dia balik bertanya: Nanti setelah level “very hard”, terus apa Om?”
Kujawab: “Kamu sendiri yang memutuskan… kamu mau apa setelah level “very hard” nanti (setelah saya jelaskan bhw “level very hard” itu ketika ia telah bisa membaca buku dengan mata tertutup, kayak mbak Ifa, seorang peserta lain yang pernah ia saksikan sebelumnya).

Sekilas kulihat dia masih belum sepenuhnya memahami arti kata-kataku (tentu saja), tetapi kulihat guratan wajahnya tersenyum cerah. Kujelaskan maksud Mind Reprogramming Personal Changing PLUS SMC Activation ini kepada ortunya, bahwa yang TERPENTING adalah MENGGESER PERHATIAN & ENERGI anak dari kebiasaan yang “sia-sia” kepada kebiasaan baru yang bermanfaat dan berkualitas. Tentang “mendeteksi” warna, bentuk, angka, huruf sampai membaca, menulis, menggambar dengan mata tertutup, itu sebenarnya adalah ketajaman INTUISI. Dan kujelaskan peran intuisi dalam pembelajaran, terutama dalam hal belajar MEMBUAT KEPUTUSAN yang TEPAT!

Brian Tracy menulis, “make your decision by trusting your intuition”. Sedangkan Albert Einstein berpendapat bahwa IMAJINASI lebih powerful daripada logika !

Anak-anak harus BERLATIH diberi KEPERCAYAAN dan MEMBUAT KEPUTUSAN dengan TEPAT dengan MEMPERCAYAI DIRINYA SENDIRI (kemampuan sendiri dan intuisi sendiri!).

Selebihnya adalah tugas orang-orang terdekatnya yang mencintainya, yang mengawal misi penindaklanjutan pemberdayaan dan pencerdasan ini secara kontinu… Jangan sampai bibit bagus mengalami kekeliruan atau kekurangan dalam perawatannya…

Rekan-rekan ortu yang berbahagia, kehadiran seorang terapis merupakan fasilitator yang tidak mungkin menggantikan peran orangtua.. Fasilitator membantu menunjukkan jalan, peta, se;lebihnya para ortu lah yang melanjutkan perjalanan bersama sang buah hati, sang permata hati…

Salam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s