Aku Kehilangan Diriku


“Aku kehilangan diriku”. Begitulah jika dikatakan, untuk menggambarkan seorang klien yang mengalami trauma akibat guncangan mental setelah peristiwa menyedihkan yang menimpanya setahun sebelumnya.

Seorang direktur (laki-laki, 48 tahun) lembaga entrepreneur sosial, di Malang, Jawa Timur, seorang pimpinan yang baik, sangat memotivasi anggotanya (karyawan), pekerjaannya bagus dan bisa memberi contoh produktivitas yang bagus kepada anak buahnya. Dan para anak buahnya (anggota/ karyawan) pun menyukainya. Maaf, tidak ada sebutan baku untuk para pekerja di lembaga ini. Bukan sebutan “karyawan” ataupun “anak buah” atau semacamnya. Semua disebut “kawan”. Egaliter sekali. Suasana nyaman pun terasa. Saya pun cukup sering main-main ke lembaga ini untuk ngobrol dari obrolan ringan hingga serius. Sang direktur adalah kawan saya. Dan semua “pekerja” di situ adalah kawan saya juga.

Hingga suatu saat, suasana berubah drastis setelah musibah keluarga sang direktur menghampirinya. Musibah ini sangat menghantam diri sang direktur. Sang direktur yang dulunya periang menjadi lebih banyak murung. Penuturan para karyawannya menyatakan bahwa sang direktur ini lebih sering berdiam diri, jarang bicara, murung, dan ketika bicara sering diulang-ulang seolah-olah dirinya sendiri lupa apa yang dibicarakan. Dan sering mengulang pertanyaan walaupun pertanyaan yang sama telah dilontarkannya. Memang tetap tidak pernah memarahi “karyawan”-nya, seperti biasa. Tetapi perubahan suasana personalitas seperti ini sangat dirasakan ‘karyawan” kantornya.

Hingga pada suatu ketika, sang direktur ini ngobrol dengan saya perihal apa yang dirasakannya pada saat ini yang sepertinya sedang mencapai puncaknya. Intinya, dia ini menceritakan apa-apa yang dirasakannya dan ia ingin sekali membuang apa-apa yang mengganggunya tersebut. Dia mengatakan, yang paling menganggunya adalah bahwa dia sekarang (saat itu) sangat sulit fokus, pikiran sering melayang bahkan di saat kerja.

Singkat cerita, saya dan dia sepakat untuk melakukan terapi. Sesi terapi berlangsung sekitar 3 jam, karena diselingi ngobrol, penjelasan-penjelasan, evaluasi dan eksplorasi emosi. Selama sesi, dia ditemani oleh salah seorang karyawan kantor yang juga ikut sesi (walaupun saya juga tidak tahu apa masalahnya. Pokoknya ikut saja.). Sesi dibagi 3 tahapan (disesuaikan dengan kondisi klien) untuk mengantar 2 beliau ini ke ‘state yang lebih mendamaikan emosinya’.

Pada tahap 1 saya evaluasi, keduanya mengalami “sensasi emosi” yang nyaman, berbeda dari kenyamanan sebelumnya yang ia rasakan dalam aktivitas penenangan diri. Pada tahap 2, keduanya merasakan efek yang jauh lebih kuat dari tahap 1, bahkan sang direktur ini merasakan “kekuatan lain” yang belum pernah dirasakan dan alami sebelumnya, yakni kuat duduk bersila hingga lebih dari 30 menit! Biasanya, jangankan 30 menit, bersila selama 5 menit saja sudah kesemutan. Emosi yang ia rasakan makin nyaman dan kuat (merasa kuat dari dalam). Dan pada tahapan ke-3, sensasi rasa emosi yang mengalami penguatan menyeruak ke tubuh fisik. Dia menuturkan bahwa dia merasakan perbaikan di bagian punggung sebelah bawah yang memang menjadi masalah baginya (pada awalnya niatannya hanya untuk penenangan diri dan penguatan emosi saja). Yah, anggap saja itu bonus. Dan yang terkait dengan “apa-apa yang ingin dia buang”, dia mengatakan, telah banyak berkurang, kira-kira 50%-an. Dia merasakan jauh lebgih nyaman.

Sedangkan sang karyawan yang ikut juga dalam sesi dengan 3 tahapan juga, mengalami hal yang hampir sama, yakni kondisi emosi yang lebih stabil dan kuat, hanya bedanya ia merasakan degup jantungnya lebih cepat, yang kemudian ia rasakan saja tanpa melawan, maka ia “dapat berdamai dengan degup jantung yang mengencang itu”. Hanya kira-kira setengah menit degup jantung itu namun kemudian kembali tenteram. Secara tidak sengaja, beliau ini telah mempraktikkan ajaran “berdamai dengan ketidaknyamanan”.

 

Terimakasih tak terhingga kami sampaikan kepada Tuhan…

Bimbingan, bantuan dan kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya memang tiada batas…

 

 

 

One thought on “Aku Kehilangan Diriku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s