Soft Skills dan Kesuksesan Hidup


Artikel tentang soft skills ini sebenarnya telah saya tulis, tetapi perlu saya posting ulang untuk mempermudah bagi yang memerlukannya. Juga, untuk menegaskan betapa pentingnya soft skills bagi kesuksesan para pembelajar. Saya sangat berharap agar pemahaman dan kesadaran mengenai soft skills ini benar-benar mewujud dalam aplikasinya.

Apa & Bagaimana Soft Skills Itu ?

Ketika seseorang menempuh pendidikan, apakah yang membuat hidupnya sukses kelak? Nilai/ IP tinggi? Kemampuan akademik tinggi? Ternyata bukan. Artikel ini tentu saja bukan pembenar bagi mereka yang punya nilai/ IP rendah atau berkemampuan akademik pas-pasan…he..he… :D  Dengan nilai/ IP tinggi dan kemampuan akademik OK aja belum menjamin sukses kok… Simak hasil riset ini…

Buku Lessons From The Top yang ditulis oleh Thomas J. Neff dan James M. Citrin (1999), mengatakan bahwa kunci sukses seseorang ditentukan oleh 90% soft skills dan hanya 10% saja ditentukan oleh hard skills.. Wow.. keren…

Kajian Depdiknas RI pada tahun 2009, menyatakan bahwa kesuksesan seseorang dalam pendidikan, 85% ditentukan oleh soft skills. Mantap..!

Hasil penelitian Harvard University, Amerika Serikat: kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan keterampilan teknis (hard skills), tetapi oleh keterampilan mengelola diri dan orang lain (soft skills). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 % dengan hard skills dan sisanya 80 % dengan soft skills. Siip….

Buku berjudul: Lesson From The Top karangan Neff dan Citrin (1999) memuat sharing dan wawancara 50 orang tersukses di Amerika: mereka sepakat yang paling menentukan kesuksesan bukanlah keterampilan teknis melainkan kualitas diri yang termasuk dalam keterampilan lunak (soft skills) atau keterampilan berhubungan dengan orang lain (people skills).

Hasil survei Majalah Mingguan Tempo tentang keberhasilan seseorang mencapai puncak karirnya karena memiliki karakter: mau bekerja keras, kepercayaan diri tinggi, mempunyai visi ke depan, bisa bekerja dalam tim, memiliki kepercayaan matang, mampu berpikir analitis, mudah beradaptasi, mampu bekerja dalam tekanan, cakap berbahasa Inggris, dan mampu mengorganisir pekerjaan.

Sony Gunawan dari Yogya Departemen Store menyampaikan hal itu pada diskusi “Relevansi Soft Skill Dengan Kebutuhan Dunia Kerja” yang diselenggarakan Universitas Widyatama. Sony memaparkan, ketersediaan lulusan (supply) dengan keterserapan dunia kerja/usaha terhadap lulusan tersebut (demand) saat ini, sangat tidak seimbang. Akibatnya, banyak lulusan yang bekerja tidak sesuai dengan bidang keahliannya. Untuk memperoleh lulusan yang siap kerja, dunia usaha yang dikelola Sony, menetapkan sistem seleksi dengan menggunakan tes spiritual quotient (SQ). Tes tersebut memenuhi kebutuhan IQ maupun EQ calon karyawan, bahkan indikasinya cenderung baik dan peserta tes dapat bekerja sama. Jika seseorang mempunyai kedua kompetensi itu, silakan dengan terbuka merebut kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan dan perlakuan dalam bekerja.

Hasil survei National Association of Colleges and Employers (NACE) pada tahun 2002 di Amerika Serikat, dari jajak pendapat terhadap 457 pengusaha, diperoleh kesimpulan bahwa Indeks Prestasi akademik (IP) adalah nomor 17 dari 20 kualitas yang dianggap penting dari seorang lulusan universitas!

Survei tersebut menghasilkan berturut-turut: kemampuan komunikasi, kejujuran/integritas, kemampuan bekerja sama, kemampuan interpersonal, beretika, motivasi/inisiatif, kemampuan beradaptasi, daya analitik, kemampuan komputer, kemampuan berorganisasi, berorientasi pada detail, kepemimpinan, kepercayaan diri, ramah, sopan, bijaksana, indeks prestasi (IP = 3,00), kreatif, humoris, dan kemampuan berwirausaha. Inilah yang disebut sebagai SOFT SKILLS. Sedangkan IP yang kerap dinilai sebagai bukti kehebatan mahasiswa, dalam indikator orang sukses tersebut ternyata menempati posisi hampir terakhir, yaitu nomor 17 !

Sejalan dengan pengertian di atas, menurut UNESCO, tujuan belajar yang dilakukan oleh peserta didik harus dilandaskan pada empat pilar yaitu learning how to know, learning how to do, learning how to be, dan learning how to live together. Dua landasan yang pertama mengandung maksud bahwa proses belajar yang dilakukan peserta didik mengacu pada kemampuan mengaktualkan dan mengorganisir segala pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki masing-masing individu dalam menghadapi segala jenis pekerjaan berdasarkan basis pendidikan yang dimilikinya (memiliki Hard Skills). Dengan kata lain peserta didik memiliki kompetensi yang memungkinkan mereka dapat bersaing untuk memasuki dunia kerja. Sedangkan dua landasan yang terakhir mengacu pada kemampuan mengaktualkan dan mengorganisir berbagai kemampuan yang ada pada masing-masing individu dalam suatu keteraturan sistemik menuju suatu tujuan bersama. Maksudnya bahwa untuk bisa menjadi seseorang yang diinginkan dan bisa hidup berdampingan bersama orang lain baik di tempat kerja maupun di masyarakat maka harus mengembangkan sikap toleran, simpati, empati, emosi, etika dan unsur psikologis lainnya. Inilah yang disebut dengan SOFT SKILLS.

SOFT SKILL, menurut Patrick O’Brien, dalam bukunya, “Making College Count”, disebutnya sebagai “The Winning Character”, Karakter Yang Memenangkan, yakni:

– KETERAMPILAN KOMUNIKASI- KETERAMPILAN BERORGANISASI- KEPEMIMPINAN- LOGIKA- KETERAMPILAN MENGUPAYAKAN SESUATU- KETERAMPILAN BERKELOMPOK, dan- ETIKA.

Konsep tentang soft skills sebenarnya merupakan pengembangan dari konsep yang selama ini dikenal dengan istilah kecerdasan emosional (emotional intelligence). Soft skilld sendiri diartikan sebagai kemampuan di luar kemampuan teknis dan akademis (hard skills), yang lebih mengutamakan kemampuan pribadi seseorang dalam bersosialisasi, berkomunikasi, kemampuan beradaptasi, MENGELOLA DIRI SENDIRI DAN ORANG LAIN serta bersikap optimis dalam semua bidang.

[Baca pula: Heart and Mind Intelligence]

Kalau realitas ini kita jadikan acuan untuk melihat pendidikan di Indonesia, memang memprihatinkan. Pendidikan kita ternyata masih berkutat dengan gaya hard skills.

Ketidakmampuan memberikan pendidikan soft skills mengakibatkan lulusan hanya pandai menghapal pelajaran dan sedikit punya keterampilan ketika sudah di lapangan kerja. Mereka akan menjadi mesin karena penguasaan keterampilan tetapi lemah dalam memimpin. Mereka merasa sudah sukses kalau memiliki keterampilan, padahal membuat jejaring juga merupakan bagian tidak terpisahkan dalam suatu pengembangan diri.

Realitas ini, yang masih memberikan porsi lebih besar pada muatan hard skills daripada berorientasi pada pengembangan soft skills, sementara kenyataan di lapangan berkata lain, sangat menyengsarakan lulusan lembaga pendidikan!

Para pengguna tenaga kerja sangat menginginkan lulusan sekolah/ perguruan tinggi yang tangguh, mampu bekerja secara team sampai dengan mampu berkomunikasi secara lisan dan tertulis dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari iklan lowongan pekerjaan yang ada di beberapa surat kabar, media cetak maupun di internet. Dimana para perusahaan lebih banyak menggunakan kriteria-kriteria dalam soft skills untuk mencari pegawainya.

Melihat realitas ini, mengapa pendidikan Indonesia masih bertahan dengan gaya hard skills saja?***

Jika sistem pendidikan di Indonesia masih berkutat di hard skills (visi soft skills hanya menjadi teks mandul di bunyi UU Sisdiknas, tetapi benar-benar mandul di lapangan) saja, maka SELAMATKAN putra-putri Anda SEKARANG juga, dengan memberi pembelajaran berbasis SOFT SKILLS !

Kekeliruan sejak pendidikan dasar dan menengah, membawa kefatalan pula di jenjang pendidikan tinggi, dst.

Simak juga:

1. Page Soft Skill di Facebook

2. Group “Komunitas Belajar Cerdas” di Facebook.

 

CATATAN:

Penulis blog ini, saya sendiri, Wawan Kuswandoro, telah membuktikannya. Dan saya terapkan pada kedua anak saya (Nikko Akbar dan Nikko Reza) dalam pembelajaran mereka. Maka, janganlah membuang-buang waktu putra-putri anda dengan menjebakkan diri pada ilusi prestasi seperti diilustrasikan sebagai capaian ‘hard-skills’, semisal pengejaran mati-matian untuk menduduki ranking atas sebagai “prestasi” mata pelajaran akademik, kemudian ikut les mata pelajaran hanya untuk mengejar ranking tsb, yang hasilnya: hanya membuat anak LELAH dan TERTEKAN.

Akhiri dominasi rezim hard skills SEKARANG !

Akhiri kesalahan berpikir tentang makna sukses belajar SEKARANG !

Jangan  habisi masa depan putra putri anda dengan kesalahan persepsi tentang sukses belajar !

 

Saran saya:

  1. Mata pelajaran itu ‘hard skills’. Cukup dikuasai dan dipahami secukupnya saja. Yang penting paham dan bisa (tidak perlu mengejar ranking atas). Cukuplah memiliki nilai “yang penting tidak jelek”.
  2. Mengapa demikian (point 1)? Supaya anak cukup waktu untuk MENGASAH SOFT SKILLS: ekstra kurikuler, hobi yang produktif, berorganisasi, dsb. Inilah yang sesungguhnya menolong kesuksesan anak kelak !

SOFT SKILLS telah terbukti.

 

One thought on “Soft Skills dan Kesuksesan Hidup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s