Hipnoterapi Untuk Persiapan Ujian Nasional


Ditulis oleh:

Stebby Julionatan, Staff Humas dan Protokol Pemerintah Kota Probolinggo

Menjelang Ujian Nasional (UN) yang akan dilaksanakan April mendatang, beberapa sekolah dasar di Kota Probolinggo mulai menyiapkan murid-muridnya untuk menghadapi UN. Dan salah satu bentuk persiapan yang digelar oleh sekolah-sekolah tersebut adalah melalui hipnoterapi seperti yang beberapa waktu lalu digelar oleh MI Muhammadiyah, SDN Mangunharjo 6 dan SDN Kedungasem 4.

Lantas apakah hipnoterapi ini benar-benar efektif untuk meningkatkan kemampuan belajar siswa? Dan secara bagaimana pandangan dunia akademik mengenai hal ini?

“Hipnoterapi adalah terapi pikiran yang dilakukan melalui teknik hipnosis. Bukan hipnotis lho ya, seperti istilah salah kaprah yang senantiasa dipakai masyarakat awam. Hipnotis sendiri adalah sebutan untuk praktisi di bidang hipnosis. Sedangkan hipnosis adalah kondisi relaksasi pikiran yang biasanya disertai dengan relaksasi tubuh. Dalam kondisi hipnosis, pikiran manusia menjadi lebih terbuka terhadap berbagai perubahan karena langsung masuk ke pikiran bawah sadar tanpa difilter oleh pikiran sadar atau yang disebut critical factor”. Demikianlah yang disampaikan oleh Wawan E. Kuswandoro, seorang Praktisi Pendidikan yang sekaligus adalah Ketua Dewan Pendidikan Kota Probolinggo kepada Link Go.

Lebih lanjut Wawan menjelaskan, banyak orang mengira hipnosis itu sama dengan kondisi tidur atau tidak sadar. Perlu dipahami bahwa kondisi hipnosis adalah kondisi alamiah dimana pikiran dan tubuh dibuat rileks sepenuhnya dengan jalan memasuki alam pikiran bawah sadar manusia.

“Dalam kondisi hipnosis, orang yang dihipnosis masih tetap bisa mendengar suara hipnoterapisnya dengan jelas hanya saja karena critical factor (pikiran kiritis)-nya tidak aktif dan yang aktif adalah pikiran bawah sadar, maka ia bisa menerima sugesti apapun tanpa daya tolak. Sekali lagi saya jelaskan, hipnosis tidak akan membuat Anda, atau clientnya, tidak sadar atau tertidur. Para hipnoterapis tidak ingin Anda pingsan karena mereka butuh “kesadaran” Anda untuk menjalani proses terapi,”

Wawan, yang ternyata juga seorang ahli hipnoterapi ini sudah mulai berkenalan dengan dunia hipnosis ketika dirinya masih duduk di bangku SMA (1986) -melalui sugesti ilusi, dan pada tahun lalu (2010) telah mendapat gelar Master of Hypnotherapist dan bisa memberikan sertifikasi keahlian hipnosis dan hipnotherapi, menjelaskan bahwa banyak sekali kegunaan hipnosis, antara lain untuk hiburan seperti street hypnosis (hipnosis jalanan seperti yang biasa disaksikan dalam acara Uya Kuya) dan stage hypnosis (hipnosis yang digunakan dalam pertunjukan Rommy Rafael) dan juga untuk keperluan terapi yang biasa disebut hipnoterapi.

Hipnoterapi sendiri memiliki banyak cakupan dan penggunaannya, antara lain: dalam bidang pendidikan, kesehatan dan pengembangan diri (training & coaching). Dengan menggunakan prinsip dasar hipnoterapi namun dipadukan dengan teknik-teknik kependidikan, perilaku (behavioral), prinsip kerja otak dan intelijensia, hipnoterapi dapat membantu pendidikan.

Proses hipnosis memanfaatkan alam bawah sadar manusia dimana alam bawah sadar merupakan kendali pikiran yang sangat dominan yakni sebesar 88%, sedangkan pikiran sadar hanya 12%. Sigmund Freud, seorang ahli psikoanalisis dan psikologi, mengatakan tindakan manusia sebagian besar didasarkan pada program-program yang tertanam di Pikiran Bawah Sadar-nya, bukan pada logikanya. Pikiran Bawah Sadar adalah tempat penyimpanan semua memori dan program-program pikiran, seperti: kebiasaan, dorongan perasaan, keyakinan, persepsi dan memori permanen.

“Dengan kata lain, program apapun yang ada di Pikiran Bawah Sadar manusia akan selalu menjadi dasar bagi tindakannya. Inilah yang dimanfaatkan secara produktif oleh para ahli hipnoterapi,” lanjut Wawan yang juga seorang dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Malang ini.

Namun di sisi lain alam Pikiran Bawah Sadar adalah alam pikiran yang sangat mudah dipengaruhi namun hanya dapat mengenali kata-kata sugesti tertentu saja dan bekerja tanpa dapat mengenali kata negasi seperti “tidak”, “jangan” dan “bukan”. Sehingga satu saja kata ataupun pikiran buruk yang tertanam di dalamnya, tanpa menunggu perintah, akan terbawa ke seluruh sistem tubuh. (baca: Law of Attraction, The Secret – Rhonda Bryne).

“Karena begitu penting dan juga rentannya pikiran bawah sadar manusia, yang sering saya sebut pinpinbo, pinter-pinter bodoh, oleh karena itu proses hipnoterapi harus dilakukan dengan hati-hati, tepat dan dilakukan oleh seorang ahli agar tidak tertanam false memory (memori palsu, red.) yang terbawa serta dalam sugesti yang diberikan. Ini bisa menimbulkan masalah baru. Lha, hipnoterapi kan bertujuan menyelesaikan masalah kok malah memunculkan masalah baru.” Ujar Wawan mewanti-wanti. False memory akibat kesalahan penanaman program pada memori orang yang dihipnosis.

“Kesalahan hipnoterapi bisa terjadi ketika sugesti yang diberikan oleh hipnoterapis salah, dan bahkan kesalahan ini terkadang tidak disadari oleh hipnoterapis.” Lanjut Wawan.

Sebagai contoh, pada proses hipnoterapi yang memerlukan wawancara bawah sadar untuk masuk ke “masa lalu” klien -lazimnya disebut regresi, kadang hipnoterapis bertemu dengan fenomena yang seolah merupakan pengalaman masa lalu klien, padahal bukan. Bisa jadi hal itu hanyalah ilusi si klien atau harapan yang tertinggal di memori. Ketika proses terapi berlangsung, unsur-unsur pikiran yang dianggap memberdayakan biasanya justru diperkuat oleh sang hipnoterapis, dan kalau yang diperkuat justru ilusi tersebut, dijadikan seolah-seolah fakta yang diyakini benar dan faktual oleh pikiran bawah sadar, ini sangat berbahaya, apalagi jika berhubungan dengan orang lain, pasangan hidup, dsb.

Untuk kasus yang berhubungan dengan orang lain, menurut Wawan, harus dilakukan secara pribadi agar tidak memunculkan masalah baru dengan orang lain yang dipersepsi sebagai bagian dari masalah klien. Menurutnya, hal ini seringkali ini tidak diperhatikan oleh hipnoterapis yang kurang cermat.

Hipnoterapis yang kurang paham sering mencampuradukkan antara hipnoterapi untuk sugesti pemberdayaan diri secara umum (sehingga boleh diketahui oleh orang lain bahkan dilakukan secara masal pun boleh) dengan sugesti terapi untuk kasus yang melibatkan orang lain yang menjadi bagian dari masalah klien.

“Parahnya, jika wawancara bawah sadar dilakukan terhadap klien dengan diketahui oleh orang lain yang dipersepsi sebagai bagian dari masalah klien tersebut. Lha, ini kan memicu masalah baru. Permusuhan baru.” Imbuh Wawan pada Link Go.

Misalnya ketika seseorang punya masalah dan ada orang lain yang tidak ia sukai, kemudian sang hipnoterapis -entah karena apa— mewawancarai orang tersebut dan orang tersebut mengaku dengan jujur (bawah sadar manusia itu jujur) bahwa ia benci pada si X (sambil menyebut nama X) dan si X berada di sebelahnya, dapat dibayangkan efek yang terjadi pasca terapi.

Bisa jadi, menurut Wawan, belum tentu wawancara bawah sadar dengan menanyai orang yang dibenci atau disuka itu justru tidak diperlukan dalam prosedur terapi.

Lebih lanjut Wawan menjelaskan bahwa untuk mencapai hasil optimal dalam hipnoterapi, pemilihan kata sugesti sangatlah penting. Kalimat sugesti ini penting dikenali juga oleh klien atau masyarakat pengguna hipnoterapi agar lebih mendekatkan pikirannya dengan kata-kata yang memberdayakan.

Hipnoterapis terutama yang bergerak di bidang pendidikan sangat peka dengan kalimat-kalimat pemberdaya. Kalau secara umum, sugesti memang tidak pernah menggunakan kata negasi, baik kata “tidak”, “jangan” ataupun “bukan”. Sifat alam pikiran bawah sadar manusia yang tidak dapat mengenali atau mendeteksi kata tersebut maka yang tertanam justru sebaliknya.

“Sebagai contoh, ketika sang hipnoterapis mensugesti klientnya dengan kata “kamu tidak takut”, yang tertanam di alam pikiran sang klient justru sebaliknya, “kamu takut” karena kata “tidak” tidak dibaca oleh pikiran bawah sadar. Demikian jujur dan polosnya pikiran bawah sadar, juga “pinpinbo” tadi itu, hipnoterapi amat bagus untuk pemberdayaan diri.” Ungkap Wawan sambil mendemokan kepada Link Go bagaimana pikiran bawah sadar bekerja, termasuk kejujuran pikiran bawah sadar.

Wawan menggunakan hypnosis mata terbuka untuk membawa Link Go dapat berkomunikasi dengan pikiran bawah sadarnya dengan bantuan pendulum (bandul) yang biasa digunakan oleh para hipnotis.

Di samping false memory, proses hipnoterapi yang salah juga bisa menciptakan masalah-masalah baru sebagaimana disinggung di atas, yakni ketika wawancara bawah sadar yang berhubungan dengan orang lain.

“Seperti yang dapat dilihat dalam program televisi Uya Emang Kuya, masalah yang terjadi atau mengganjal pada “korban” hypnosis, langsung dikonfrontasikan dengan orang lain yang menjadi bagian dari masalahnya dan masalah (seolah) dapat diselesaikan langsung di tempat itu juga. Masyarakat juga harus paham bahwa program Uya Kuya ini adalah show entertainment yang mana orang yang ‘dikerjai’ Uya Kuya adalah aktor yang sebelumnya telah menandatangani perjanjian bermaterai bahwa ia telah menyetujui penayangan kondisi hypnosis yang dialaminya berikut isi wawancara bawah sadarnya yang sering berisi perselisihan dengan orang lain dan orang lain tersebut berada di sampingnya.”

“Hendaknya pertunjukan hiburan seperti ini tidak diadopsi dalam prosedur hipnoterapi yang bertanggungjawab,” Imbuh Wawan yang mengembangkan hipnoterapi pendidikan (hypno-education) dalam program “Miracle” (Mind Reprogramming and Accelerated Learning) ini.

Pada prakteknya, menurut Wawan, hipnosis dan hipnoterapi tidak melulu menggunakan cara “tidur” walaupun kebanyakan para hypnotist dan hipnoterapis termasuk dirinya menggunakan sugesti “tidur” untuk aksinya. Ada kalanya hipnosis tanpa tidur atau disebut waking hypnosis (hipnosis dengan mata terbuka).

“Saya lihat kondisi klien. Jika dengan hipnosis melek sudah bisa (berhasil, red.), ya gak perlu lah saya tidurkan,” Ujarnya

Kemudian, lanjutnya, dalam konteks pendidikan, akan lebih bermanfaat jika hipnoterapi diaplikasikan untuk mengeksplorasi dan memperkuat potensi diri siswa dan guru sambil mengatasi masalah hambatan belajar yang dirasakan oleh sang murid yang kadang juga berkaitan dengan dengan guru dan orangtua. Setelah hambatan belajar teratasi, hipnoterapi diarahkan untuk memperkuat “energy belajar” atau dengan kata lain, mengakselerasi pembelajaran siswa dengan lompatan pikiran, memori dan kecerdasan buatan. Akselerasi belajar bukan metode membaca cepat atau quick-learning atau menghemat waktu, namun lebih kepada pemberdayaan dan penguatan pikiran untuk mampu menggunakan seluruh inderanya dalam belajar.

Bagaimana jika sekolah melakukan hipnoterapi pada siswanya? Wawan berpendapat hal itu boleh saja asal dilakukan dengan tepat, tidak bias memori dan berdasar prosedur hipnoterapi yang dibutuhkan.

“Sebaiknya dalam hipnoterapi yang dilakukan di sekolah, jika dilakukan secara masal atau diketahui oleh orang lain hanya untuk membantu permasalahan umum saja semisal sugesti percaya diri dan motivasi diri. Kalau sudah berkaitan dengan hal-hal yang khusus dan berkaitan dengan orang lain, guru misalnya, sebaiknya siswa tersebut dihipnoterapi secara khusus dan pribadi sebab ketika diwawancarai bawah sadarnya dan ia menyebut nama guru yang dibenci misalnya, sang guru tidak tahu. Kalau tahu kan bisa menjadi masalah baru.”

Bagaimana dengan penggunaan hipnoterapi dalam persiapan Ujian Nasional? Sambil tersenyum Wawan menjelaskan lagi, hipnoterapi dalam pendidikan termasuk digunakan dalam persiapan UN boleh saja dilakukan, asal tadi itu, tepat, tidak bias memori, dan menempuh prosedur yang diperlukan (tidak mendramatisir seperti dalam hypno-entertainment yang lebih berpihak kepada sang hipnotainment agar kelihatan hebat) serta meninggalkan kesan dan pesan pada klien (siswa) bahwa belajar itu proses.

Dalam konteks UN ini, hipnoterapi berada pada wilayah dan peran “penyiapan kondisi pikiran dan emosi anak”, yaitu kondisi pikiran dan emosi yang memberdayakan. Ini dimaksudkan untuk menjaga vitalitas mental peserta ujian. Tetapi masyarakat jangan sampai salah memahami bahwa UN beres hanya dengan hipnoterapi… Wah….😀

“Jangan keliru, hipnoterapi tidak bermaksud sim salabim anak mendadak pinter dan berhasil baik dalam UN apalagi mendadak jenius.” Seloroh Wawan saat ditemui Link Go di ruang kerjanya.

“Peningkatan kemampuan belajar siswa itu ditempuh dengan berproses, bukan instant, hari ini dihipnoterapi minggu depan jadi anak jenius. Bukan itu. Hipnoterapi merupakan sebuah cara atau jalan yang efektif, untuk meningkatkan motivasi belajar, percaya diri, menghilangkan emosi-emosi negatif, pengalaman hidup yang kontra-produktif dengan belajar karena perlakuan buruk atau tidak tepat, dsb. Jika hambatan belajar ini sudah beres, barulah memperkuat kemampuan belajarnya.”

“Dari pengalaman, memang, seseorang yang kondisi pikiran dan emosinya stabil, semangat belajarnya juga baik, selebihnya kemampuan belajar dan pikirannya juga berangsur menjadi lebih baik. Menjalani ujian juga lebih siap. Persoalan lulus atau berhasilnya siswa dalam pelaksanaan ujian termasuk UN tentunya bergantung pada usaha dan kerja keras siswa dalam belajar. The effort is in your hands. Namun masalah belajar –dalam arti luas– tidak berhenti pada urusan UN saja. Pembentukan karakter kepribadian dan perilaku tidak kalah penting. Juga cara berpikir. Yang jelas, seseorang yang telah menjalani hipnoterapi yang benar, ada perubahan signifikan dalam berpikir dan bertindak.” Pungkas Wawan yang juga berprofesi sebagai Associate Trainer pada sebuah perusahaan HRD di Surabaya ini kepada Link Go. (stebby)

Baca juga:

Siap Ujian Nasional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s