Programmer Pikiran Anak Anda adalah… TELEVISI !


Tantangan berat para ortu yang sedang menyiapkan setting-an belajar bagi putra/ putri mereka adalah TELEVISI. Yupz.. “kotak ajaib” yang akrab dan selalu setia mendampingi putra/ putri setiap keluarga itu SETIAP SAAT menemani putra/putri Anda dan “memprogram” pikiran putra/ putri Anda !

Mari kita simak laporan Kapanlagi.com berikut ini:

Media televisi dipercaya memiliki begitu banyak aspek sosial karena dianggap sebagai sebuah media di dalam masyarakat sejak pertama kali ditemukan. Beberapa penelitian menunjukkan saat seseorang menonton televisi, maka satu bagian dari otak akan menjadi sangat aktif dan hormon dopamine diproduksi. Beberapa ilmuwan percaya, dikeluarkannya dopamine dengan jumlah yang tinggi akan mengurangi neurotransmitter yang sedianya digunakan untuk tujuan lain. Penelitian lain terhadap anak-anak dan orang dewasa menemukan hubungan antara banyak jam yang dihabiskan untuk menonton televisi dengan obesitas. Sebuah studi juga menemukan bahwa kegiatan menonton televisi dapat menurunkan tingkat metabolisme anak-anak hingga mencapai tingkat di bawah rata-rata metabolisme saat tidur.

Pengaruh media televisi terhadap anak dinilai sudah cukup mencemaskan dan perlu mendapat perhatian serius dari orang tua, sebab selain mengurangi jam tidur yang berakibat terganggunya kesehatan juga mempengaruhi psikologi mental anak.

Konselor Biro Positive Psychologie Medan, Indah Kemala Hasibuan, di Medan, Kamis (24/07), mengatakan, sebanyak 83% anak-anak usia sekolah di bawah enam tahun telah menonton televisi. Bahkan anak-anak pra sekolah menghabiskan minimal empat jam setiap hari untuk menyaksikan tayangan televisi, DVD player, video games dan komputer.

Pengaruh dan perkembangan anak usai menyaksikan tayangan media dengan kekerasan selama masa pra sekolah akan mengakibatkan psikologi anak menjadi keras dalam pergaulan.

“Ekspos media memberikan risiko kepada anak tidak sensitif dengan kekerasan dan anti sosial,” katanya.

Ia menuturkan, salah satu perusahaan di Amerika tahun 2005 berhasil melakukan penjualan video games sebanyak 10,5 miliar unit, diperkirakan jumlah itu akan terus bertambah mencapai 46,5 miliar tahun 2010.

“Di sinilah dituntut peran dan tanggung jawab orang tua membantu serta membimbing anak setiap menyaksikan tayangan di media, sehingga anak bisa memahami dengan konteks yang lebih benar dari yang ditontonnya,” katanya.

Untuk membatasi anak menyaksikan tayangan melalui media, ia menyebutkan beberapa tips. Antara lain jangan meletakkan pesawat televisi di kamar tidur, hindari acara televisi di pagi hari, harus bisa tegas saat tidak ada tayangan televisi dan bertindak sebelum kehilangan kendali akibat pengaruh tayangan tersebut.

Dan apakah MENU PROGRAMMING yang disajikan oleh TELEVISI pada PIKIRAN putra/ putri Anda?

Laporan Dewi Arta ini menarik untuk disimak.

Tengoklah tayangan yang melintas bebas di layar televisi. Tayangan “sampah” sekalipun bisa dinikmati anak-anak dengan mudah. Salah satu tayangan yang berisiko tinggi bagi perkembangan mental anak adalah film horor.

Nyatanya, film horor memang dibuat untuk menakut-nakuti penontonnya. Saat penonton bisa berteriak histeris menyaksikan adegan berdarah, maka bertumpuklah pundi-pundi produser film itu.

Waspadalah, ketakutan yang dihasilkan film horor membekas selama bertahun-tahun dalam hidup seseorang. Penelitian National Institute of Mental Health di Amerika Serikat menyatakan, tayangan film horor berdampak buruk bagi perkembangan kejiwaan anak.

Rani Rajak I Noe’man selaku konselor dan psikolog anak dari Yayasan Kita dan Buah Hati membeberkan berbagai dampak film horor bagi anak, diantaranya:

Kepercayaan dan sistem nilai (belief dan value)

Anak yang terbiasa menonton film horor atau mistik akan menganggap apa yang mereka lihat adalah benar, tak bisa membedakan mana yang nyata dan rekaan semata. “Mereka menginternalisasikannya ke dalam belief system sehingga setelah dewasa percaya klenik,” jelas Rani saat ditemui dalam talkshow dan launch kampanye “Lindungi Keluarga” di Dome Cafe, Plaza Indonesia, Jakarta, Jumat (13/11/2009).

Perubahan perilaku

Contohnya, kecemasan, ketakutan berkepanjangan, dan mimpi buruk. Isi film horor sebagian besar adegan kekerasan dan kejahatan berdarah. Anak terobsesi menirunya yang cenderung membahayakan dirinya dan orang lain.

Dampak psikologis jangka panjang

Dampak ini mempengaruhi rasa percaya dirinya. Menurut Steve Wollin dalam buku “Resileince Self”, manusia lahir tanpa jati diri dan jati diri dibentuk dari pantulan ekspresi-ekspresi wajah yang dilihatnya. “Bila anak-anak selalu melihat ekspresi wajah marah atau menakutkan, maka mereka merasa diri tidak layak dicintai,” jelas Rani.

Dampak pada prestasi akademik, kurang tidur, dan rasa cemas berkepanjangan

Akibat yang ditimbulkan adalah menurunnya konsentrasi dan kemampuan mengendalikan diri hingga mereka tidak dapat belajar optimal.

Banyak langkah pintar yang bisa dilakukan orangtua untuk mencegah anak terkena dampak tayangan negatif, yaitu:

  • Pahami status tontonan, misalnya status tayangan BO (Bimbingan Orangtua) untuk anak usia di atas 13 tahun sementara status DW untuk usia di atas 21 tahun.
  • Pilihkan tayangan sesuai usia anak.
  • Dampingi anak saat menonton, ingatkan atau bekali anak dengan pengetahuan tentang dampak buruk tontonan horor dan kekerasan.
  • Diskusikan dengan anak-anak tentang tayangan yang membuat mereka tidak nyaman atau menakutkan. “Ibu bisa bilang, kalau ada tontonan yang buat kamu takut atau tidak bisa tidur, kamu bisa ceritakan pada ibu,” kata Rani mencontohkan.
  • Ajak anak melakukan kegiatan yang bersifat fisik untuk menghindarkannya duduk pasif di depan layar televisi.

Lantas bagaimana kalau anak terlanjur melihat tontonan tersebut?

“Intinya: KOMUNIKASI. Kemudian, orangtua jangan menampakkan ekspresi takut di depan anak saat mereka (program TV) itu menakuti-nakuti. Ya, pura-pura berani,” tutur Rani.

Ditambahkannya, anak harus dibiasakan BERPIKIR REALISTIS DAN LOGIS agar level ketakutannya pada hal-hal mistis menurun. “Misalnya dengan mengatakan, setan itu memang ada, tapi tidak bisa kita lihat. Ibu juga tidak bisa lihat. Dan setan memang bertugas menggoda manusia untuk berbuat tidak baik,” tukas Rani.

Turunkan pula level ketakutan anak dengan menjadikan diri Anda cermin pengalamannya.

“Misalnya dengan mengatakan, sampai saat ini saja ibu pernah lihat hantu,” tutup Rani.

Memang, TV tidak mungkin terlepas dari keluarga-keluarga Indonesia. yang perlu dilakukan adalah MEMBENTENGI anak-anak dari serangan program negatif televisi yang merusak pikiran anak-anak. Jika juur dikatakan, memang TV benar-benar tidak bertanggungjawab dan tidak men-support pendidikan anak-anak Indonesia.

Sebagai bukti, simak penuturan budayawan Garin Nugroho pada sebuah seminar di Universitas Indonesia (Juni 2003) yang menemukan kalau beberapa direktur stasiun televisi itu justru MELARANG ANAK-ANAK MEREKA SENDIRI untuk menonton tayangan-tayangan yang dipancar-luaskan oleh stasiun TV yang mereka pimpin. Moral ceritanya, yang penting anak-anak mereka sendiri selamat dari “pembodohan” itu, sedangkan anak-anak lain bangsa ini terserah nasibnya masing-masing (Victor Menayang, “Melibatkan Media Dalam Pendidikan” dalam Widiastono, Ed., “Pendidikan Manusia Indonesia, Penerbit Buku Kompas, 2004).

Lalu bagaimana doonk….?

1. Membatasi menonton tayangan TV, pilih yang bermanfaat (informatif), matikan TV pada jam-jam belajar anak.

2. Mendampingi anak-anak ketika menonton acara TV.

3. Menetralisir pengaruh “program negatif” TV dengan memberikan “program positif” yakni dengan komunikasi efektif, melatih berpikir logis & realistis.

4. Mengalihkan perhatian anak-anak dengan hal lain yang lebih menarik.

5. Konsisten dan membiasakan bersama-sama “memerangi serangan virus TV” dalam satu keluarga.

Program KOMUNIKASI EFEKTIF ORTU – ANAK akan kita bahas lebih mendetail di artikel lain atau di kegiatan workshop Miracle yang diselenggarakan oleh Wahana Miracle Indonesia (W-Mind).
Tulisan di atas bersumber dari tulisan Wawan E. Kuswandoro di :

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s