Pecatur, Pedagang Beras dan Pendidikan


Disunting dari buku “5 MATAHARI”
Penulis: Budi S. Tanu Wibowo

Dua pecatur baru saja menyelesaikan pertarungannya. Keduanya masih duduk saling berhadapan asik menganalisis demi langkah yang telah mereka lakukan. dari diskusi tersebut terlihat mana langkah yang kuat, lemah, atau keliru. Herannya mereka begitu hafal mengulang kembali langkah-langkah tersebut dengan tepat. pPdahal, jumlah langkah yang harus diingat cukup banyak; 41 langkah.

Seorang peminat catur bertanya kepada mereka. Apa rahasianya sampai mereka begitu hebat mampu menghafal puluhan langkah?
Dengan rendah hati sang pecatur menjawab bahwa meeka hafal karena sudah terbiasa.

Sama halnya dengan pedagang beras yang mencocok karung beras sekali saja, langsung tahu kualitas beras tersebut.

Sesekali kita boleh juga mengamati seorang pemilik toko tradisional yang menjual ratusan bahkan ribuan macam produk. Kita akan terkaget-kaget ketika pemilik teersebut, yang mungkin sekolahnya tidak tamat SD bisa hafal harga setiap produk dengan tepat. Sementara orang yang tingkat pendidikannya lebih tinggi belum tentu mampu melakukannya.

Kita juga pantas terheran-heran melihat kemampuan seorang supir. Ia hanya sesekali melintasi jalan berliku dan bercabang pada malam hari, namun pada hari berikutnya Ia sudah hafal dan tahu persisi lika-liku sebuah alamat.

Apa yang digambarkan di atas setidaknya membuktikan atau menggambarkan dua hal.
Pertama, menggambarkan bahwa kemampuan otak manusia sebenarnya jauh di atas kemampuan yang terlihat sehari-hari. Sayangnya, sebagian besar kemampuan yang masih berupa potensi itu belum bisa digali sepenuhnya secara optimal. Seandainya sistem pendidikan bisa di desain sedemikian rupa sehingga bisa menggalinya secara efektif dan optimal, bisa dibayangkan berapa besar manfaat yang diperoleh bagi kemajuan kehidupan dan peradaban.

Yang kedua, kemampuan manusia adalah UNIK, tidak seragam. Setiap orang punya minat tersendiri. Ketika ia menjumpai sesuatu yang diminati, ia akan punya perhatian dan konsentrasi serius. Bila ini terjadi, orang tersebut akan belajar dengan sungguh-sungguh sehingga pada akhirnya ia akan memperoleh hasil yang optimal. Namun, bila yang terjadi sebaliknya, ia tidak akan memperoleh kemajuan yang berarti.
Disini para pendidik harus dibekali cara mendeteksi minat anak muridnya secara tepat sejak dini dan sebaiknya sistem pedidikan tidak didesain seragam dan terlalu banyak dibebani mata pelajaran yang kurang perlu.

Jadi teringat sewaktu anak masih kecil, disamping kasihan melihatnya harus menggendong ransel berat berisi buku pelajaran yang begitu banyak dan beragam, kadang kewalahan ketika harus mengajarinya. Betapa banyak mata pelajaran yang kurang berguna dan tidak nyambung dengan mata pelajaran yang mereka terima kemudian di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Alangkah baiknya jika jumlah pelajaran ditingkatan SD cukup tujuh mata pelajaran dasar saja, yaitu: Budi Pekerti, Bahasa, Musik, Olahraga, Matematika, Sains, dan Kewarganegaraan (termasuk kepemimpinan di dalamnya). Ketujuh mata pelajaran ini, terus diajarkan secara mendalam dari kelas satu sampai enam agar benar-benar meresap sehingga membekali anak didik dengan dasar pendidikan yang kuat.

Pendidikan Budi Pekerti, untuk memperkuat sisi moralitas dan etika agar mereka tumbuh menjadi manusia yang baik, bertanggung jawab, dan mempunyai pemahaman kemanusiaan yang tinggi. Di dalamnya dimasukkan pula nilai-nilai universal agama.
Pendidikan Bahasa, termasuk Sastra diperlukan untuk memperkuat kemampuan komunikasi dan sekaligus memperhalus jiwa mereka.
Pendidikan Musik, penting untuk melatih rasa dan pemahaman mereka mengenai pentingnya harmoni dan kebersamaan.
Pendidikan Olahraga, disamping bermanfaat bagi kesehatan juga berguna untuk melatih dan disiplin dan jiwa sportifitas.
Matematika diperlukan untuk melatih dan memperkuat logika mereka, sehingga mampu berpikir secara logis.
Sains menjadi penting untuk diajarkan sejak dini, mengingat perannya yang sangat sentral bagi kehidupan manusia modern.
Pendidikan Kewarganegaraan, disamping dibutuhkan untuk memperkuat rasa cinta tanah air, juga diperlukan untuk melatih kepemimpina dan pemahaman kehidupan bermasyarakat.***

Tulisan di atas adalah sumbangan dari KataRa Ona, yang diposting di Group Personal Excellent Community.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s