Elemen- Elemen Kesuksesan


Selamat datang jawara..

Selamat datang di dunia segala kemungkinan. Dari sini Anda akan memasuki semesta kemungkinan yang bisa Anda raih. Segala kemungkinan yang pernah dan masih serta akan Anda pikirkan bisa Anda raih mulai sekarang. Langkah pertama sudah Anda ambil. Tahap pertama sudah Anda lalui dengan membaca buku ini.

Ada beberapa hal awal yang perlu kita luruskan terlebih dahulu. Buku ini tidak ber-maksud menggurui karena Anda memang tidak memerlukan seorang guru untuk menentukan masa depan Anda lantaran guru sejati itu sudah lama bersemayam dalam diri Anda. Buku ini pun tidak memberikan cetak-biru kesuksesan karena jalan menuju kesuksesan amat beragam dan berbeda-beda bagi setiap orang, termasuk jalan yang harus Anda tempuh untuk mencapai kesuksesan versi Anda. Di dalamnya Anda akan menemukan seratus satu jalan menuju kesuk-sesan yang bisa Anda pilih sendiri. Namun, buku ini sekedar teman bercengkrama di kala Anda merasa gundah dan bingung memilih jalan mana yang harus Anda ambil. Sekali lagi bukan untuk menggurui, tapi sebagai penambah wawasan agar Anda memiliki lebih banyak pilihan. Mulailah perjalanan Anda meraih kesuksesan yang Anda inginkan sekarang juga.
Setiap manusia – Anda! – sejak awal oleh Yang Kuasa dipersiapkan secara sempurna untuk meraih dan menikmati kesuksesan. Ini hukum pertama kehidupan dan menjadi elemen pertama kesuksesan. Alasannya sederhana: Yang Kuasa tidak akan menciptakan insan yang sia-sia. Kesuksesan adalah elemen dalam diri setiap insan yang sudah ada jauh sebelum dia dilahirkan. Memahami serta menerima prinsip ini merupakan prasyarat meraih kesuksesan dalam bentuk apa pun. Gagal atau tidak mau menerima prinsip pertama ini merupakan bukti pertama sebuah kegagalan. Orang hebat yang patut menjadi contoh prinsip ini tidak lain adalah Abraham Lincoln. Simaklah cerita singkat kesuksesannya ini.

• Abraham mengalami kegagalan dalam bisnis ketika berumur 31 tahun.
• Kalah dalam pemilihan legislatif ketika berumur 32 tahun.
• Bisnisnya gagal lagi ketika berumur 34 tahun.
• Ditinggal mati istri tercinta ketika ber-umur 35 tahun.
• Mengalami tekanan mental ketika ber-umur 36 tahun.
• Kalah dalam pemilihan umum ketika berumur 38 tahun.
• Kalah dalam pemilihan anggota kong-res ketika berumur 43 tahun.
• Kalah dalam pemilihan anggota kong-res ketika berumur 46 tahun.
• Kalah dalam pemilihan anggota kong-res ketika berumur 48 tahun.
• Kalah dalam pemilihan senator ketika berumur 55 tahun.
• Kalah menjadi wakil presiden ketika berumur 56 tahun.
• Kalah dalam pemilihan senator ketika berumur 58 tahun.
• Dipilih menjadi presiden Amerika ketika berumur 60 tahun.

Benarkan dia orang hebat yang berhak atas kesuksesannya?
Setelah mempersiapkan seseorang menjadi insan yang berhak memperoleh kesuksesan, Yang Kuasa kemudian membekali setiap insan – sekali lagi, termasuk Anda – dengan kemampuan potensial untuk meraih kesuksesan itu. Potensi ini menjadi elemen kedua kesuksesan. Kemampuan ini sudah ada sejak lama dalam diri kita. Seringkali kita tidak menyadarinya sampai suatu peristiwa memaksa kita,sehingga secara tidak sadar menggunakan-nya dan kemudian membuka mata kita bahwa dalam diri kita ada potensi yang amat dahsyat menunggu dibudidayakan yang seringkali ter-jadi secara spontan. Untuk memahami bagai-mana potensi kesuksesan ini telah ada dalam diri kita, renungkan cerita berbau humor berikut ini.
Harry dan Joe sedang bersenang-senang di sebuah pub. Setelah minum dengan puas, Harry pulang duluan. Dia mengambil jalan pintas. Dia berjalan melewati sebuah kuburan. Saat itu malam amat gelap dan dia terjatuh ke sebuah lobang besar yang ditinggalkan si penggali kubur untuk pemakaman besok. Harry mencoba memanjat keluar dari lobang itu, tetapi dia tidak dapat keluar karena lobang itu sangat dalam. Dia mulai berteriak minta tolong, tetapi tak seorang pun mendengarnya. Ketika merasa lelah dia memutuskan untuk tidur di salah satu sudut lobang itu. Beberapa jam telah berlalu dan Joe pun pulang. Dia mengambil jalan pintas. Joe berjalan dalam kegelapan dan dia pun jatuh pada lobang yang sama. Joe takut kegelapan dan mencoba sekuat tenaga meman-jat keluar dari lobang itu. Namun dia tidak dapat keluar dari lobang dan mulai berteriak minta tolong. Teriakan itu membangunkan Harry dan dia berkata dengan suara pelan, “Hai teman, kamu tidak akan dapat keluar dari sini malam ini.” Mendengar suara itu, Joe terkejut setengah mati dan tanpa disadarinya dia melompat dengan sekuat tenaga dan berhasil keluar dari lobang dan lari pulang seakan-akan dia dikejar hantu.
Ini bukti nyata bagaimana sebuah potensi memperlihatkan kekuatannya dalam situasi spontan.
Rancangan Illahi kesuksesan yang ada dalam diri kita beserta segala potensi yang menyertainya akan bisa dengan sempurna menampakkan hasil maksimalnya dengan sedikit polesan faktor eksternal. Sentuhan luar ini adalah elemen ketiga kesuksesan. Salah satunya adalah pendidikan. Pendidikan yang sejati akan mengarahkan anak didik sesuai harkat dan hakikatnya. Ia tidak memaksa dan melebihi potensi yang ada. Untuk lebih mendalami bagaimana sentuhan eksternal ini berperan dalan meraih kesuksesan, simaklah cerita fabel indah berikut ini.

Seekor elang betina yang akan bertelur mulai membuat sarang. Dengan penuh semangat elang itu mempersiapkan sarangnya dengan mengumpulkan ranting-ranting pohon dan lumpur. Kemudian ia merangkai sarangnya dengan bahan–bahan yang ringan dan halus hingga elang betina itu mendapatkan kehangat-an yang sesuai untuk telur-telurnya. Setelah selesai elang itu bertelur dan meletakkan telur-nya di sarang yang hangat itu. Ketika telur telah menetas, induk elang itu memberi makan anak-anaknya. Setelah beberapa lama, induk elang itu mengeluarkan semua bahan yang halus dari sarangnya. Kemudian ia memilih dan meletak-kan beberapa bulu di pinggir sarangnya itu sehingga sarangnya tidak hangat dan senyaman dulu lagi. Ketika anak itu sudah cukup besar, induk mereka mulai mendorong mereka terbang keluar satu per satu. Pertama-tama induk elang itu mendorong anak-anaknya dengan lemah-lembut, tetapi dorongan yang lemah-lembut itu akan berubah keras. Jika ada salah satu anaknya tidak mau terbang keluar sarangnya, si induk elang akan mematok dan melempar anaknya itu keluar. Ketika akan membentur tanah, dengan instingnya anak elang itu mulai mengepakkan kedua sayapnya. Jika tidak mengepakkan kedua sayapnya, induk elang akan turun dan menangkapnya sebelum tubuh anaknya itu membentur tanah, lalu membawanya kembali ke sarang. Jika waktu istirahat dan masa pemulihan dirasa cukup, induk elang akan kembali mendorong anaknya itu terbang keluar. Si induk elang akan melakukan hal yang sama sampai anak-anaknya bisa terbang.

Sebuah sentuhan eksternal yang indah bukan?

Pendidikan memang seharusnya ber-langsung sepanjang hayat. Namun kita tidak memiliki waktu sepanjang itu untuk meraih dan baru menikmati buah kesuksesan. Kesuksesan bisa Anda raih dalam waktu kapan pun sepanjang Anda menginginkannya. Namun Anda tidak akan bisa menemukan kesuksesan sejati tanpa terlebih dahulu menemukan jatidiri Anda yang sebenarnya. Ini elemen keempat kesuksesan. Keberhakan kita dan segala potensi yang ada dalam diri kita untuk meraih kesuksesan serta pendidikan yang memoles kecakapan kita tidak akan bisa berbuat banyak tanpa jalur yang tepat. Memilih jalur kesuksesan secara tepat ditentukan dengan memahami jatidiri kita yang sebenarnya. Sepenggal cerita di bawah ini akan lebih memu-dahkan kita memahami elemen keempat ini.

Suatu hari seorang petani menemukan sebutir telur elang dan membawanya ke rumah. Ditaruhnya telur merah itu bersama telur-telur ayam. Si elang kecil ditetaskan bersama anak–anak ayam lainnya. Dia memulai hidupnya seperti anak–anak ayam dan induknya. Dia mengikuti cara–cara anak ayam. Suatu hari, seekor elang terbang rendah melihat si elang kecil berjalan bersama anak–anak ayam. Dia terbang turun untuk berbicara dengan si elang kecil. Semua anak ayam berlarian karena mereka takut pada si elang, begitu juga dengan si elang kecil yang lari menghindari terkaman sang elang. Tapi langkahnya dihentikan oleh si elang dewasa. Si elang dewasa bertanya ”Apa yang kau lakukan dengan anak–anak ayam itu?”. “Kau adalah seekor elang sepertiku. Kau bisa terbang sepertiku dan rumahmu jauh tinggi di sana, di antara tebing–tebing itu”. Si elang kecil kebingungan dan tak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya adalah seekor elang. “Aku adalah seekor anak ayam seperti lainnya. Di sinilah tempatku bersama anak–anak ayam lainnya. Lihat aku tak bisa terbang. Aku seekor ayam”. “Bukan, kamu bukan seekor ayam, tapi seekor elang yang perkasa”. Tanpa menunggu jawaban, si elang dewasa merengkuh si elang kecil. Dikepakkan sayapnya terbang tinggi melewati tebing–tebing terdekat, lalu dia berkata, “Aku akan mengajarimu terbang dan membuktikan bahwa kamu memang seekor elang”. Pelajaran terbang dimulai dengan segala kebingungan. Si elang kecil akhirnya menyadari bahwa dirinya bisa terbang. Tentunya dia perlu beberapa waktu untuk berhasil. Dia sadar siapa dirinya yang sebenarnya berkat pertolongan si elang dewasa. Sejak itu dia tidak pernah kembali ke anak–anak ayam lagi karena sekarang dia tahu bahwa dirinya adalah seekor elang… elang perkasa.

Elemen kelima kesuksesan adalah menemukan kecakapan inti yang Anda miliki. Segala potensi yang Anda miliki dan semua pendidikan yang Anda tempuh telah memoles dan menyempurnakan kecakapan serta bakat Anda. Peluang meraih kesuksesan akan lebih besar Anda raih apabila Anda membidiknya selaras dengan kecakapan inti yang Anda miliki. Mungkin Anda bisa membidik lebih dari dua atau tiga ragam kesuksesan sekaligus, tapi kemungkinan tidak akan sedahsyat bila Anda memusatkan diri hanya pada satu kecakapan. Fokus pada satu kecakapan ini juga akan memperkuat posisi Anda melawan para pesaing. Simaklah cerita raja makanan cepat saji yang namanya melegenda ke seantero dunia hanya dengan menjual satu makanan: ayam goreng.

Ini cerita tentang pendiri Kentucky Fried Chicken Colonel Harlan Sanders. Dia harus menerima 1009 penolakan. Tidak terbayangkan bagaimana perasaan dan raut muka sang Colonel ketika mendengar, “Maaf, saya tidak tertarik!” Umurnya 65 tahun ketika dia menerima cek tunjangan sosial pertamanya sebesar 99 dolar. Bisnisnya berantakan. Dia hanya memiliki sebuah rumah kecil dan mobil penggiling. Dia membuat keputusan bahwa dia harus berubah. Satu-satunya ide yang dia punya saat itu adalah resep masakan ayam. Dia merasa bahwa inilah satu-satunya kecakapan yang dia kuasai lantaran seluruh kehidupannya dicurah-kan untuk menyempurnakan resep ayam gorengnya. Memang dia bisa melakukan pekerjaan lainnya, tapi fakta membuktikan bahwa di bidang lainnya dia merasa tidak puas dan mendapatkan hasil sangat mengecewakan. Tapi lain dengan dunia kuliner, khususnya sajian ayam gorengnya, resepnya amat disukai teman–temannya. Dia meninggalkan Kentucky dan bepergian ke beberapa negara bagian untuk menjual idenya. Dia mengatakan kepada para pemilik restoran bahwa dia mempunyai sebuah resep masakan ayam yang amat disukai orang dan dia ingin memberikan resep itu kepada mereka dengan cuma-cuma. Namun bukan ucapan terima kasih atau ajakan kerjasama yang dia terima, dia mendapatkan penolakan demi penolakan. Sebenarnya yang dia inginkan sebagai imbalan adalah sebagian kecil prosentase dari penjualan masakan ayamnya. Tetapi dia tidak menyerah. Kenyataannya, dia mendapatkan lebih dari 1.000 penolakan. Dia mendapatkan 1009 kata “tidak” sebelum akhirnya dia mendapatkan kata “ya” pertama kalinya. Dengan keajaiban resepnya, Colonel Harlan Sanders berhasil mengubah kebiasaan makan di seluruh dunia dengan Kentucky Fried Chicken-nya.

Berapa kali rintangan menghadang di depan Anda ketika Anda sedang meraih impian Anda? Seberapa sering Anda menghadapi tanta-ngan yang harus Anda taklukkan? Mengapa begitu banyak orang yang harus terhempas ke lembah kenestapaan ketika berjuang meraih kesuksesannya? Mengapa tidak sedikit yang meninggalkan gelanggang pertempuran sebe-lum meraih impian mereka? Mengapa hanya sedikit yang akhirnya berhasil mencapai apa yang mereka cita-citakan? Mungkin jawaban-nya bisa beragam seperti ketidakmampuan melihat peluang dan memberinya solusi, ke-tidakmampuan mencari sumberdaya bantuan, ketidaktahuan mencari teknologi sebagai faktor pengungkit, ketidakmilikan pengetahuan, dan ketrampilan yang dibutuhkan. Apa pun alasan-nya, rentetan pertanyaan itu mengantarkan kita pada elemen keenam kesuksesan: jangan pernah menyerah. Penggalan singkat biografi negarawan terkenal dan pelajaran berharga para mahasiswa Oxford ini bisa menjadi pelajaran penting kita.

Suatu hari, Winston Churchil – Perdana Menteri Inggris – diundang untuk memberikan pidato sambutan wisuda di Oxford University. Sir Winston Churchil duduk di meja paling depan dengan memakai seragam kebesarannya – topi tinggi, tongkat, dan cerutu. Ketika saatnya tiba untuk memberikan kata sambutan, Sir Winston berjalan naik ke atas podium. Dia merentangkan kedua tangannya di atas mimbar, kemudian berhenti sejenak sambil memandang ke arah para audien. Sir Winston Churchil terus memandang ke arah audien kurang lebih tiga puluh detik. Lalu beliau berkata, ”Jangan menyerah!” Kemudian berhenti agak lama dan dengan tekanan suara lebih tinggi, beliau kembali berucap, “Jangan pernah menyerah!” Beliau menatap ke arah audien selama beberapa detik lagi dan berkata, “Jangan sekali-kali pernah menyerah”. Lalu turun dari podium.
Akhirnya, inilah elemen puncak segala kemungkinan. Sekedar Anda tahu, inilah elemen yang menjadi favorit saya. Pada akhir segala kemungkinan, semuanya ada di tangan Anda. Inilah elemen ketujuh kesuksesan. Anda sendiri yang harus menentukan masa depan Anda, bukan orang lain, bukan teman Anda atau guru Anda. Di tangan Andalah semuanya akan terjadi karena Anda dan hanya Anda yang memiliki kekuatan untuk menentukan.

Untuk mengakhiri pengantar singkat ini, simaklah cerita yang amat bijak berikut ini tentang bagaimana sebuah takdir ditentukan, sekaligus menjadi contoh aplikasi bagaimana elemen ketujuh kesuksesan seharusnya digunakan.

Dahulu ada orang bijak yang kebijakaannya terdengar sampai ke pelosok negeri. Suatu hari ada seorang pemuda yang ingin membuktikan kebenaran kabar burung itu. Sebenarnya dia ingin menipu laki-laki bijaksana itu. Dia berpikir, ”Aku akan membawa seekor merpati yang masih hidup untuk menguji orang itu. Aku akan menyembunyikan merpati itu di belakang punggungku. Kemudian aku akan bertanya kepadanya apakah merpati yang ada di tanganku ini hidup atau mati. Jika dia berkata bahwa merpati itu hidup, aku akan mencekik-nya sampai mati untuk membuktikan bahwa jawabannya salah dan dia terbukti bukan orang yang bijak. Jika dia berkata bahwa merpati itu mati, aku tidak akan mencekiknya dan segera memperlihatkannya bahwa merpati itu masih hidup. Apa pun jawabannya, orang bijak itu tetap salah”. Dengan gagasannya yang licik itu, ia menemui orang bijak itu. Setelah ketemu dia bertanya, “Orang bijak, di tanganku ada seekor merpati. Dapatkah kamu menebak apakah merpati yang ada di tanganku ini mati atau hidup?” Orang bijak itu terdiam sejenak kemudian menjawab, “Anak muda, kamu perlu banyak belajar tentang kehidupan. Apa yang kamu pegang di tanganmu itu semuanya tergantung kamu. Hidup atau matinya merpati itu berada di tanganmu. Jika kamu meng-inginkan merpati itu mati, maka kamu bisa membuatnya mati. Jika kamu menginginkan merpati itu hidup, maka kamu membiarkannya hidup”. Jawaban bijak itu sungguh di luar dugaan sang pemuda. Akhirnya pemuda itu sadar bahwa jawaban orang bijak itu betul-betul mencerminkan kebijaksanaannya dan dia mohon diri dengan segala rasa malu yang dia tanggung.

Dalam halaman-halaman berikutnya, Anda akan menemukan lebih dari seratus – tepatnya seratus satu – elemen kesuksesan yang bisa Anda baca, renungkan, pilih, dan terapkan sesuai dengan kondisi dan situasi yang sedang Anda hadapi saat ini. Ingatlah setiap saat Anda bisa meraih kesuksesan seperti yang Anda inginkan sepanjang Anda telah mendefinisikan makna kesuksesan itu bagi Anda sendiri, bukan dengan atau berdasarkan berbagai kriteria orang lain. Seperti yang telah saya katakan sebelum-nya, bagian terpenting dalam setiap bab terletak di bagian akhir yang merupakan latihan pem-biasaan pikiran, otak, dan kepribadian Anda. Sering-seringlah melakukan latihan penanaman kesadaran ini karena seringkali perilaku Anda ditentukan oleh seberapa jauh Anda telah “mengajari” diri untuk menanggapi setiap tantangan yang datang. Saya doakan Anda selalu berhasil mencapai kesuksesan Anda dan jangan lupa untuk selalu merayakan setiap kesuksesan yang telah Anda capai. Selamat berjuang..!!

(Sud.L, Doing Impossible, hal.1-7, 2007).

Tulisan di atas adalah sumbangan pemikiran dari Sudarmaji Lamiran yang diposting di:

Group Personal Excellent Community

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s