Orang Bijak


Dahulu ada orang bijak yang kebijakaannya terdengar sampai ke pelosok negeri. Suatu hari ada seorang pemuda yang ingin membuktikan kebenaran kabar burung itu. Sebenarnya dia ingin menipu laki-laki bijaksana itu. Dia berpikir, ”Aku akan membawa seekor merpati yang masih hidup untuk menguji orang itu. Aku akan menyembunyikan merpati itu di belakang punggungku. Kemudian aku akan bertanya kepadanya apakah merpati yang ada di tanganku ini hidup atau mati. Jika dia berkata bahwa merpati itu hidup, aku akan mencekik-nya sampai mati untuk membuktikan bahwa jawabannya salah dan dia terbukti bukan orang yang bijak. Jika dia berkata bahwa merpati itu mati, aku tidak akan mencekiknya dan segera memperlihatkannya bahwa merpati itu masih hidup. Apa pun jawabannya, orang bijak itu tetap salah”. Dengan gagasannya yang licik itu, ia menemui orang bijak itu. Setelah ketemu dia bertanya, “Orang bijak, di tanganku ada seekor merpati. Dapatkah kamu menebak apakah merpati yang ada di tanganku ini mati atau hidup?” Orang bijak itu terdiam sejenak kemudian menjawab, “Anak muda, kamu perlu banyak belajar tentang kehidupan. Apa yang kamu pegang di tanganmu itu semuanya tergantung kamu. Hidup atau matinya merpati itu berada di tanganmu. Jika kamu meng-inginkan merpati itu mati, maka kamu bisa membuatnya mati. Jika kamu menginginkan merpati itu hidup, maka kamu membiarkannya hidup”. Jawaban bijak itu sungguh di luar dugaan sang pemuda. Akhirnya pemuda itu sadar bahwa jawaban orang bijak itu betul-betul mencerminkan kebijaksanaannya dan dia mohon diri dengan segala rasa malu yang dia tanggung. (Sud.L., Doing Impossible, Prestasi Pustaka, 2007, hal:17-18).
..
teman, menjadi manusia ekselensi berarti berkembangnya kesadaran bahwa kesuksesan berada di tangan kita sendiri. kitalah ‘master’ dari nasib kita sendiri. kitalah yang menentukan ‘hidup atau matinya merpati’ kehidupan. memang bukan jalan yang mudah untuk ditempuh tapi bukan berarti tidak mungkin untuk dilalui. menjadi insan ekselensi berarti mewujudkan ‘a self-fulfilling prophecy’.

Tulisan ini sumbangan dari Sudarmaji Lamiran yang diposting di Group Personal Excellent Community.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s